Selasa, 06 Oktober 2015

BELAJAR DAN MENGAJAR DALAM PERSPEKTIF PSIKOLOGI

Kegiatan belajar dan mengajar dalam konsep pendidikan tidak bisa lepas dari aktivitas mental individu dan aktivitas sosial sebagai kesatuan bentuk interaksi untuk perubahan perilaku manusia kearah yang lebih baik. Oleh karena itu, dibutuhkan sumbangsi disiplin ilmu psikologi dalam kegiatan belajar dan mengajar.
A.    DEFINISI PSIKOLOGI
Berikut ini adalah pendapat dari berbagai ahli tentang definisi psikologi :
  • Lynn Wilcox (2012) secara umum mengatakan bahwa Psikologi adalah kata atau bentuk yang mengungkapkan prinsip kehidupan, jiwa dan roh.
  • Beni S. Ambarjaya (2012) mengartikan psikologi sebagai suatu ilmu yang mempelajari mengenai perilaku individu dalam berinteraksi dengan lingkunganya
  • Sudarman Danim dan H. Khairil (2011) dalam buku Psikologi Pendidikan menjelaskan bahwa ada pergeseran makna atas pengertian psikologi dari “studi tentang jiwa” menjadi “studi tentang pikiran” dan kemudian bermakna “studi tentang perilaku”. Psikologi adalah disiplin akademik dan diterapkan dalam rangka studi tentang pikiran, otak dan perilaku manusia.
Melalui pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa psikologi adalah studi tentang keterkaitan pikiran dan perilaku individu dan kelompok terhadap lingkungan sosialnya. Pada prinsipnya psikologi adalah ilmu yang mempelajari tentang perilaku manusia baik itu secara individu maupun kolektif.
B.     BELAJAR DAN MENGAJAR
1.      Belajar
a.      Pengertian Belajar
Belajar adalah perubahan perilaku sebagai hasil dari proses pengetahuan melalui pengalaman dan pikiran. Pada prinsipnya belajar adalah adanya perubahan tingkah laku yang berkesinambungan yang memiliki tujuan dan terarah secara positif dan rasional. Berikut adalah pendapat beberapa pakar pendidikan tentang belajar :
  • Gagne
Belajar adalah perubahan disposisi atau kemampuan yang dicapai seseorang melalui aktivitas.
  • Travers
Belajar adalah proses menghasilkan penyesuaian tingakah laku.
  • Cronbach
Belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai hasil pengalaman. (dalam Agus Suprijono : 2010)
  • H. C. Whiterington (dalam Uzer Usman : 2000) mengatakan, belajar adalah suatu perubahan didalam kepribadian yan menyatakan diri sebagai suatu pola baru dari reaksi yang berupa kecakapan, sikap, kebiasaan kepribadian atau suatu pengertian.
  • Sudarman Danim
Belajar merupakan proses menciptakan nilai tambah kognitif, afektif dan psikomotor. Pemahaman guru  akan  pengertian  dan  makna  belajar  akan mempengaruhi tindakannya dalam membimbing siswa untuk belajar. Guru yang memahami belajar hanya sekedar agar murid bisa menghafal, tentu beda cara  mengajarnya dengan guru yang memahami belajar sebagai suatu perubahan tingkah laku. Untuk itu guru penting memahami pengertian belajar dan teori-teori belajar.
b.  Teori Belajar
1.  Teori Disiplin Mental
Teori belajar ini memang kurang popular. Tetapi teori belajar ini merupakan pijakan awal lahirnya teori behaviorisme. Teori belajar disiplin mental lahir dari pandangan Plato dan Aristoteles. Menurut teori ini, belajar adalah proses pendisiplinan dan proses melatih mental siswa. Belajar merupakan  pengembangan dari kekuatan, kemampuan dan potensi-potensi siswa.
2.  Herbartisme
Herbartisme diambil dari nama pelopornya yaitu Herbart seorang tokoh psikologi dari Jerman. Herbart menyebut teorinya dengan Teori Vorstellungen yang bermakna tanggapan-tanggapan yang tersimpan dalam kesadaran. Tanggapan-tanggapan ini meliputi tiga unsure yaitu, impresi indra, tanggapan bayangan dari impresi indera yang telah berlalu, serta perasaan senang atau tidak senang. Belajar menurut teori ini adalah pemberian tanggapan sebanyak-banyaknya  dan sejelas-jelasnya pada kesadaran individu.
3.  Beheviorisme
Behaviorisme lebih menekankan pada perilaku (behavior). Para ahli behaviorisme berpendapat bahwa belajar merupakan perubahan tingkahlaku dari hasil pengalamannya yaitu akibat adanya interaksi antara stimulus dengan respon. Semakin besar stimulus maka akan semakin besar respon yang akan dihasilkan.
4.  Kognitif
Vorstellungen Teori Kognitif muncul karena ketidakpuasan terhadap pandangan behaviorisme. Jika teori behaviorisme mendefinisikan belajar merupakan perubahan perilaku yang ditimbulkan oleh pengalaman sebagai titik acuan dan fokusnya dan hanya sedikit menaruh perhatianya pada aspek mental atau internal pembelajar. Sebaliknya, menurut teori Kognitif, belajar merupakan suatu proses internal atau kejiwaan pembelajar untuk mencari, memecahkan masalah dan mengorganisasikan pengalamanya. Teori Kognitif lebih menekankan proses belajar ketimbang hasil belajar. Belajar adalah perubahan yang tidak harus nampak, seperti tingkahlaku namun perubahan persepsi dan pemahaman juga merupakan hasil dari belajar.
5.  Konstruktivisme
Konstruktivisme adalah sebuah filosofi pembelajaran yang dilandasi premis bahwa dengan merefleksikan pengalaman, kita membangun, mengkonstruksi pengetahuan pemahaman kita tentang dunia tempat kita hidup. (Suyono, 2011:104). Karakteristik Belajar menurut teori konstruktivisme adalah sebagai berikut :
    1. Siswa bukanlah sesuatu yang pasif melaikan meliki tujuan
    2. Pengoptimalan keaktifan siswa dalam proses pembelajaran
    3. Pengetahuan bukan dating dari luar melainkan dikonstruksi dari dalam diri siswa
Belajar merupakan penkonstruksian makna.
6.  Humanistik
Menurut teori humanistik, proses belajar harus berawal dan ditujukan untuk kepentingan memanusiakan manusia itu sendiri. Oleh sebab itu, teori belajar humanistik sifatnya lebih mendekati bidang kajian filsafat, teori kepribadian, dan psikoterapi, dari pada bidang kajian kajian psikologi belajar dan pembelajaram. Teori humanistik sangat mementingkan pembelajar dari pada proses belajarnya. Teori belajar ini lebih banyak berbicara tentang konsep-konsep pendidikan untuk membentuk manusia yang dicita-citakan, serta tentang proses belajar dalam bentuknya yang paling ideal.
2.      Mengajar
a.      Pengertian Mengajar
Mengajar adalah proses interaksi dan mengorganisasi untuk menciptakan kondisi belajar. Mengajar identik dengan kata pengajaran (teaching) dan kata pembelajaran (Learning), namun pada dasarnya pengajaran berbeda dengan pembelajaran. Perbedaan keduanya bukan hanya terletak pada arti leksikal, namun juga pada implementasi kegiatan belajar mengajar. Menurut Agus Suprijono, pengajaran adalah proses penyampaian yang melahirkan konstruksi belajar mengajar berpusat pada guru, sedangkan pembelajaran adalah proses, cara, perbuatan mempelajari yang berpusat pada peserta didik.       Mengajar dalam perspektif pengajaran yaitu mengajari peserta didik, guru menyampaikan pengetahuannya dan siswa sebagai penerimanya, peserta didik dianggap botol kosong yang harus diisi atau layaknya rekening yang berisikan catatan-catatan investasi yang dilakukan guru dan gurunya adalah investor. Paulo Freire menganalogikan pengajaran sebagai banking concept of education(pendidikan gaya bank) atau dalam istilah Muska Mosston disebut pengajaran gaya komando. Berbeda dengan pembelajaran, Mengajar dalam perspektif pembelajaran yaitu guru berupaya untuk mengorganisir lingkungan terjadinya proses pembelajaran dengan menyediakan fasilitas belajar bagi peserta didik untuk mempelajarinya. Oleh karena itu, pembelajaran lebih bersifat interaktif, organik dan konstruktif  bukan emperatif dan mekanis seperti halnya pengajaran. Pembelajaran merupakan pengkombinasian unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan dan prosedur yang saling mempengaruhi untuk mencapai tujuan pembelajaran. Dalam perspektif pembelajaran inilah yang tepat untuk dijadikan acuan dalam mengartikan mengajar, karena mengajar dalam proses pendidikan sebenarnya tidak hanya sekadar menyampaikan materi yang akan diajarkan, akan tetapi juga di maknai sebagai proses mengatur, mengorganisasi lingkungan supaya terciptanya kondisi belajar. Hal ini mengisyaratkan bahwa dalam proses belajar siswa harus di jadikan pusat dari kegiatan.
b.      Perubahan Paradigma
Kualitas pendidikan adalah masalah yang sering diperbincangkan dan sering tidak mendapatkan titik akhir. Salah satunya adalah pembelajaran yang merupakan inti dari aktivitas pendidikan, oleh sebab itu pemecahan masalah dari rendahnya kualitas pendidikan tentunya harus difokuskan pada kualitas pembelajaran. Berbicara kualitas pembelajaran, sesungguhnya tidak bisa lepas dari komponen-komponennya sebagai pemberi kostribusi terbesar dalam mengukur kualitas dan hasil pembelajaran, komponen tersebut yaitu: peserta didik (pembelajar), dosen dan guru, materi, metode, sumber belajar, sarana dan prasarana, serta biaya pendidikan. Seiring waktu berjalan, perubahan paradigma berpikir mengenai proses pembelajaran telah digulirkan, meskipun terkadang barulah sebatas wacana, belum pada tindakan konkritnya.  Perubahan paradigm tersebut adalah perubahan dari kata pengejaran menjadi kata pembelajaran, demikian juga kata peserta didik sebabai pengganti siswa. Kedengaranya memang tidak berdampak besar, namun sebenarnya perubahan istilah ini akan berdampak pula pada nilai filosofinya. Seperti yang telah dijelaskan di poin sebelumnya, bahwa mengajar adalah terjemahan dari teach secara deskriptif mengajar diartikan sebagai proses penyampaian informasi atau pengetahuan dari guru kepada peserta didik. Proses penyampaian ini sering juga dianggap sebagai proses mentransfer ilmu dan menganggap siswa sebagai botol kosong yang harus diisi secara terus menerus oleh guru. Karakteristik mengajar jika mengacu pada pandangan diatas yaitu sebagai berikut :
  1. Proses pengajaran berorientasi pada pengajar (teacher centred)
  2. Peserta didik dianggap sebagai obyek belajar
  3. Kegiatan pengajaran terjadi pada tempat dan waktu tertentu
  4. Tujuan utama pengajaran adalah penguasaan materi pengajaran
Paradigma mengajar sepertinya berpijak pada pandangan behavioristik, yaitu  pandangan yang menganggap faktor eksternal sebagai factor yang penting untuk siswa, peserta didik dianggap pasif dan perilakunya ditentukan oleh faktor eksternal. Sejak tahun 1950-an, definisi mengajar (teaching) mengalami perkembangan secara terus-menerus dan perlu adanya perubahan paradigma tentang mengajar. Alasan utama sehingga perlunya perubahan paradigma mengajar yakni bahwa peserta didik adalah manusia yang sedang berkembang dan memiliki segenap potensi bukanlah botol kosong. Sudah saatnya perubahan paradigm dari mengajar ke pembelajaran dilakukan sampai pada kegiatan konkritnya, karena pembelajaran merupakan paradigm yang bepijak pada aliran psikologi kognitif , konstruktif dan humanistik. Hal ini mempermudah peningkatan kualitas pendidikan karena belajar akan berpusat pada peserta didik dan guru bertindak sebagai fasilitator, serta proses belajarnya lebih manusiawi. Sumber belajar tidak hanya bertumpu pada guru, akan tetapi belajar bisa melalui berbagai sumber belajar selain guru/dosen, sehingga merubah peran guru dalam pembelajaran. Peran guru lebih ditekankan kepada bagaimana merancang berbagai sumber dan fasilitas yang tersedia untuk dimanfaatkan peserta didik

Tidak ada komentar:

Posting Komentar