A. HakikatPerkembangan
Istilah perkembangan (development) dalam psikologi merupakan sebuah konsep yang cukup kompleks.Maka untuk dapat memahami konsep dasar perkembangan, perlu dipahami beberapa konsep lain yang terkandung di dalamnya, di antaranya : pertumbuhan, kematangan dan perubahan.
1. Perkembangan
Konsep perkembangan itu sangatlah kompleks, karena itu ada beberapa pendefinisian dalam perkembangan, anatra lain menurut, Seifert & Hoffnung (1994), mendefinisikan perkembangan sebaga “long-termchanges in a person’s growth, feelings, patterns of thinking, social relationships, and motor skills”.Sementara itu, Chaplin (2002) mengartikan perkembangan sebagai : (1) perubahan yang berkesinambungan dan progresif dalam organisme, dari lahir sampai mati, (2) pertumbuhan, (3) perubahan dalam bentuk dan dalam integrasi dari bagian-bagian jasmaniah ke dalam bagian-bagian fungsional, (4) kedewasaan atau kemunculan pola-pola asasi dari tingkah laku yang tidak dipelajari.
Menurut Reni Akbar Hawadi (2001), “Perkembangan secara luas menunjuk pada keseluruhan proses perubahan dari potensi yang dimiliki individu dan tampil dalam kualitas kemampuan, sifat dan ciri-ciri yang baru. Di dalam istilah perkembangan juga tercakup konsep usia, yang diawali dari saat pembuahan dan berakhir dengan kematian”.
Menurut F.J. Monks, dkk., (2001), “perkembangan adalah suatu proses kea rah yang lebih sempurna dan tidak begitu saja dapat diulang kembali. Perkembangan menunjuk pada perubahan yang bersifat tetap dan tidak dapat diputar kembali, atau proses yang kekal dan tetap yang emnuju kea rah suatu organisasi pada tingkat integrasi yang lebih tinggi, berdasarkan pertumbuhan, pemasakan dan belajar”.
Maka kesimpulan umum yang dapat ditari dari beberapa penjelasan di atas, bahwa perkembangan tidaklah terbatas pada pengertian pertumbuhan yang semakin membesar, melainkan di dalamnya juga terkandung serangkaian perubahan yang berlansung secara terus-menerus dan bersifat tetap dari fungsi-fungsi jasmaniah dan rohaniah yang dimiliki individu menuju ke tahap kematangan melalui pertumbuhan, pemasakan dan belajar.
Perkembangan itu bergerak secara berangsur-angsur tetapi pasti, melalui suatu bentuk/tahap ke bentuk/tahap berikutnya, yang kian hari kian bertambah maju, mulai dari masa pembuahan dan berakhir dengan kematian.Menunjukkan bahwa sejak masa konsepsi sampai meninggal dunia, individu tidak pernah statis, melainkan senantiasa mengalami perubahan-perubahan yang bersifat progresif dan berkesinambungan.Misalnya, ia mengalami perkembangan dalam struktur fisik dan mental, jasmani dan rohani sebagai ciri-ciri memasuki jenjang kedewasaan. Perubahan-perubahan it uterus berlansung tanpa henti meskipun laju perkembangannya semakin pelan, setelah ia mencapai titik puncaknya. Ini berarti bahwa dalam konsep perkembangan juga tercangkup makna pembusukan (decay) – seperti kematian.
2. Pertumbuhan
Dalam konsep perkembangan juga terkandung pertumbuhan.Pertumbuhan (growth) sendiri sebenarnya merupakan sebuah istilah yang digunakan dalam biologi, sehingga pengertiannya bersifat biologis. C.P. Chaplin (2002), mengartikan pertumbuhan sebagai satu pertambahan atau kenaikan dalam ukuran dari bagian-bagian tubuh atau dari organisme sebagai suatu keseluruhan. Menurut A.E. Sinolangun (1997), pertumbuhan menunjuk pada perubahan kuantitatif, yaitu yang dapat dihitung atau diukur, seperti panjang atau berat tubuh. Sedangkan Ahmad Thonthowi (1993), mengartikan pertumbuhan sebagai perubahan jasad yang meningkat dalam ukuran (size) sebagai akibat dari adanya perbanyakan (multiplication) sel-sel.
Dari beberapa penjelasan di atas dapat ditarik kesimpulan, bahwa istilah pertumbuhan dalam konteks perkembangan merujuk pada perubahan-perubahan yang bersifat kuantitatif, yaitu peningkatan dalam ukuran dan struktur, seperti pertumbuhan badan, kaki, kepala, jantung, paru-paru, dan sebagainya.Maka tidak tepat, jika mengatakan pertumbuhan ingatan, pikiran, kecerdasan, dan sebagainya, sebab kesemuanya merupakan perubahan fungsi-fungsi rohaniah.Atau dikatakan pertumbuhan kemampuan berjalan, manulis, penginderaan, dan sebagainya, sebab kesemuanya itu merupakan perkembangan fungsi-fungsi jasmaniah.
Pertumbuhan fisik bersifat meningkat, menetap, dan kemudian mengalami kemunduran sejalan dengan bertambahnya usia yang berakhir pada keruntuhan di hari tua, di mana kekuatan dan kesehatannya berkurang, pancaindra menjadi lemah atau lumpuh sama sekali. Berbeda dengan perkembangan aspek mental atau psikis yang relative berkelanjutan, sepanjang individu yang bersangkutan tetap memeliharanya.
Jadi, istilah pertumbuhan cenderung menunjuk pada kemajuan fisik atau pertumbuhan tubuhyang melaju sampai titik optimum dan kemudian menurun menuju pada keruntuhannya.Sedangkan istilah perkembangan lebih menunjuk pada kemajuan mental atau perkembangan rohani yang terus berlanjut dan tidak berhenti walaupun keadaan jasmani sudah mencai puncak pertumbuhannya.meskipun terdapat perbedaan dalam penekanan dari kedua istilah, tetapi dalam literature psikologa perkembangan istilah pertumbuhan digunakan dalam pengertian yang sama dengan perkembangan. Bahkan menurut Witherington (1986), “pertumbuhan dalam pengertiannya yang luas meliputi perkembangan”.
3. Kematangan
Pertumbuhan dan perkembangan itu pada umumnya berjalan selaras dan pada tahap-tahap tertentu menghasilkan suatu kematangan, baik jasmani maupun rohani.Kematangan juga berasal dari istilah biologi, yang menunjuk pada keranuman atau kemasakan.Istilah ini digunakan dalam perkembangan individu karena terdapat beberapa persesuaian.
Chaplin (2002), mengartikan kematangan (maturation) sebagai : (1) perkembangan, proses mencapai kemasakan/usia masak, (2) proses perkembangan, yang dianggap berasal dari keturunan atau tingkah laku khusus spesies (jenis, rumpun). Davidoff (1998), menggunakan istilah kematangan untuk menunjuk pada munculnya pola perilaku tertentu yang bergantung pada pertumbuhan jasmani dan kesiapan susunan saraf, yang juga bergantung pada gen, karena karena pada masa pembuahan, gen telah memprogram potensi-potensi tertentu untuk perkembangannya di kemudian hari.
Jadi, kematangan itu sebenarnya merupakan suatu potensi yang dibawa individu sejak lahir, timbul dan bersatu dengan pembawaannya serta turut mengatur pola perkembangan tingkah laku individu.Tetapi juga tidak dapat dikategorikan sebagai faktor keturunan atau pembawaan karena merupakan suatu sifat tersendiri yang umum dimiliki oleh setiap individu dalam bentuk dan masa tertentu.
Kematangan mula-mula merupakan suatu hasil daripada adanya perubahan-perubahan tertentu dan penyesuaian struktur pada diri individu, seperti adanya kematangan jaringan-jaringan tubuh, saraf dan kelenjar-kelenjar yang disebut dengan kematangan biologis.Yang mana terjadi pula pada aspek psikis yang meliputi keadaan berpikir, rasa, kemauan, dan lain-lain, yang memerlukan beberapa latihan-latihan tertentu. Misalnya, anak yang baru berusia lima tahun dianggap masih belum matang untuk menangkapmasalah-masalah yang bersifat abstrak, oleh karena itu, anak yang bersangkutan belum bisa diberikan matematika dan angka-angka. Pada usia empat bulan, seorang anak belum matang didudukkan, karena berdasarkan penelitian bahwa kemampuan leher dan kepalanya belum mampu untuk tegak. Sebab usaha pemaksaan terhadap kecepatan tibanya masa kematangan yang terlalu awal akan mengakibatkan kerusakan atau kegagalan dalam perkembangan tingkah laku individu.
4. Perubahan
Perkembangan mengandung perubahan-perubahan, tetapi bukan berarti setiap perubahan bermakna perkembangan. Perubahan-perubahan dalam perkembangan bertujuan untuk memungkinkan orang menyesuaikan diri dengan lingkungan di mana ia hidup. Untuk mencapai tujuan ini, realisasi diri atau yang biasanya disebut aktualisasi diri merupakan faktor yang sangat penting.Tujuan ini dapat dianggap sebagai suatu dorongan untuk melakukan sesuatu yang tepat, untuk menjadi manusia seperti yang diinginkan baik secara fisik maupun psikis. Yang mana ini semua bergantung pada kemampuan-kemampuan bawaan dan latihan yang diperoleh, tidak hanya masa anak-anak, tetapi juga ketika usia meningkat dan menjumpai tekanan-tekanan yang lebih besar untuk menyesuaikan diri dengan harapan-harapan masyarakat. Jika ia dapat merealisasikan diri dengan baik secara pribadi dan social, maka ia akan mempunyai kesempatan untuk mengungkapkan minat dan keinginannya dengan cara-cara yang memuaskan dirinya dan juga harus sesuai dengan standar yang diakui bersama. Sebaliknya, kurangnya kesempatan untuk mengaktualisasikan diri, akan menimbulkan kekecewaan dan sikap-sikap negatif terhadap diri dan lingkungan pada umumnya.
Secara garis besar, perubahan-perubahan yang terjadi dalam perkembangan itu terbagi dalam empat bentuk, yaitu :
Ø Perubahan dalam ukuran besarnya
Perubahan-perubahan ini terlihat dalam pertumbuhan jasmani dan perkembangan mental seseorang. Setiap tahun seorang anak tumbuh menjadi dewasa, tinggi dan berat badannya bertambah, kecuali jika keadaan yang tidak normal mempengaruhinya, maka akan terjadi berbagai penyimpangan dalam pertumbuhannya. Perkembangan mental pun akan menunjukkan kemajuan yang sama, seperti semakin meningkat dan bertambahnya pembendaharaan kosakata, kemampuan dalam berpikir, mengingat, mengecap, dan lain-lain.
Ø Perubahan-perubahan dalam proporsi
Pertumbuhan fisik tidak terbatas pada perubahan-perubahan ukuran, tetapi juga pada proporsi.Anak bukanlah sekedar manusia dewasa dalam bentuk kecil, melainkan keseluruhan tubuhnya menunjukkan proporsi-proporsi yang berbeda. Terlihat perbedaan Antara tubuh bayi dan orang dewasa, yang mana akan tampak sama proporsinya ketika menginjak pubertas. Hal ini juga berlaku pada perkembangan mentalnya, terlihat pada anak-anak yang imajinasinya sangat bercorak dan fantastik, sangat jauh dari kenyataan.Secara berangsur-angsur dan bertahap, unsur-unsur fantastik itu mulai menjurus pada yang lebih realistik.
Ø Hilangnya bentuk atau ciri-ciri lama
Hilangnya bentuk dan ciri-ciri tertentu dapat terlihat di antara ciri-ciri fisik yaitu, secara berangsur hilangnya kelenjar anak-anak (thymus gland) yang terletak di leher, kelenjar pineal pada otak, reflek-reflek tertentu, rambut, gigi dengan hilangnya gigi anak-anak. Sementara, ciri-ciri mental yaitu, perkembangan bicaranya, impuls-impuls gerakan yang kekanak-kanakan sebelum berpikir, bentuk-bentuk gerakan bayi, seperti merangkak, merambat, penglihatan yang semakin tajam atau pengindraan lainnya, terutama yang berkaitan dengan rasa dan bau atau penciuman.
Ø Timbul atau lahir bentuk atau ciri-ciri baru
Dengan hilangnya ciri-ciri lama yang tidak berdaya guna lagi, maka timbullah ciri-ciri dan bentuk perubahan-perubahan fisik dan mental yang baru. Beberapa perubahan itu terjadi Antara lain melalui belajar, tetapi kebanyakan dihasilkan atau terjadi karena proses kematangan yang pada saat lahir belum sepenuhnya dapat berkembang.
Di Antara ciri dan bentuk pertumbuhan fisik yang sangat penting adalah tumbuhnya gigi pertama dan kedua yang terlihat jelas pada masa kanak-kanak memasuki masa remaja.Sedangkan dalam perkembangan mental adalah tumbuhnya rasa ingin, khususnya yang berkenaan dengan masalah-masalah seks, desakan/dorongan seks, pengetahuan dan nilai-nilai moral, keyakinan / kepercayaan agama, bentuk-bentuk bahasa yang berbeda.
B. Tugas-tugas Pokok Perkembangan
Setiap individu diharapkan menguasai keterampilan tertentu yang penting yang memperoleh pola perilaku yang disetujui pada berbagai rentang kehidupan. J. Havighurst menamakannya “tugas-tugas pokok dalam perkembangan”. Menurut J. Havighurst tugas pokok perkembangan adalah tugas yang muncul pada saat atau sekitar suatu periode tertentu dari kehidupan individu , yang jika berhasil akan menimbulkan rasa bahagia dan membawa kea rah keberhasilan dalam melaksanakan tugas-tugas berikutnya. Akan tetapi, kalau gagal, menimbulkan rasa tidak bahagia dan kesulitan dalam menghadapi tugas-tugas berikutnya.”Beberapa tugas terutama muncul sebagai akibat dari kematangan fisik, seperti belajar berjalan; yang lain terutama berkembang dari adanya tekanan-tekanan budaya dari masyarakat, seperti belajar membaca, dan yang lain lagi tumbuh dari nilai-nilai dan aspirasi-aspirasi individual, seperti memilih dan mempersiapkan suatu pekerjaan.
Berdasarkan ungkapan dari J. Havighurst di atas, ada beberapa tugas-tugas pokok perkembangan untuk berbagai tahapan rentang kehidupan, anatara lain :
v Masa bayi dan awal masa kanak-kanak
ü Belajar memakan makanan padat
ü Belajar berjalan
ü Belajar berbicara
ü Belajar mengendalikan pembuangan kotoran tubuh
ü Mempelajari perbedaan seks dan tata caranya
ü Mempersiapkan diri untuk membaca
ü Belajar membedakan benar dan salah, serta mulai mengembangkan hati nurani
v Akhir masa kanak-kanak
ü Mempelajari keterampilan fisik yang diperlukan untuk permainan yang umum
ü Membangun sikap yang sehat mengenai diri sendiri sebagai makhluk yang sedang tumbuh
ü Belajar menyesuaikan diri dengan teman-teman seusianya
ü Mulai mengembangkan peran social pria atau wanita yang tepat
ü Mengembangkan ketrampilan dasar untuk membaca, manulis dan berhitung
ü Mengembangkan pengertian yang diperlukan untuk kehidupan sehari-hari
ü Mengembangkan hati nurani, pengertian moral dan tata serta tingkatan nilai
ü Mengembangkan sikap terhadap kelompok social dan lembaga-lembaga
ü Mencapai kebebasan pribadi
v Masa remaja
ü Mencapai hubungan baru dan yang lebih matang dengan teman sebaya baik pria maupun wanita
ü Mencapai peran social pria dan wanita
ü Menerima keadaan fisiknya dan menggunakan tubuhnya secara efektif
ü Mengharapkan dan mencapai perilaku social yang bertanggung jawab
ü Mencapai kemandirian emosional dari orang tua dan orang dewasa lainnya
ü Mempersiapkan karir ekonomi
ü Mempersiapkan perkawinan dan keluarga
ü Memperoleh perangkat nilai dan system etis sebagai pegangan untuk berperilaku mengembangkan ideologi
v Awal masa dewasa
ü Mulai bekerja
ü Memilih pasangan
ü Belajar hidup dengan tunangan
ü Mulai membuat keluarga
ü Mengasuh anak
ü Mengelola rumah tangga
ü Mengambil tanggung jawab sebagai warga Negara
ü Mencari kelompok social yang menyenangkan
v Masa usia pertengahan
ü Mencapai tanggung jawab social dan dewasa sebagai warga Negara
ü Membantu anak-anak remaja belajar untuk menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab dan bahagia
ü Mengembangkan kegiatan pengisi waktu senggang untuk orang dewasa
ü Menghubungkan diri sendiri dengan pasangan hidup sebagai suatu individu
ü Menerima dan menyesuaikan diri dengan perubahan fisiologis yang terjadi pada tahap ini
ü Mencapai dan mempertahankan prestasi yang memuaskan dalam karir pekerjaan
ü Menyesuaikan diri dengan orang tua yang semakin tua
v Masa tua
ü Menyesuaikan diri dengan menurunnya kekuatan fisik dan kesehatan
ü Menyesuaikan diri dengan masa pension dan berkurangnya income (penghasilan) keluarga
ü Menyesuaikan diri dengan kematian pasangan hidup
ü Membentuk hubungan dengan orang-orang yang seusia
ü Membentuk pengaturan kehidupan fisik yang memuaskan
ü Menyesuaikan diri dengan peran social secara luwes
C. Periodisasi Perkembangan
Berdasarkan hasil penelitian para ahli terlihat bahwa dasar yang digunakan untuk mengadakan periodisasi perkembangan anak ternyata berbeda-beda satu sama lain. Secara garis besarnya terdapat empat dasar pembagian fase-fase perkembangan ini, yaitu : (1) Periodisasi perkembangan berdasarkan ciri-ciri biologis; (2) Konsep didaktif; (3) Ciri-ciri psikologis; dan (4) Konsep tugas perkembangan. Berikut akan dikemukakan pendapat beberapa ahli tentang keempat dasar pembagian fase perkembangan tersebut. Kemudian, sebagai bahan perbandingan akan dikemukakan fase-fase perkembangan menurut konsep Islam.
1) Periodisasi Perkembangan Berdasarkan Ciri-ciri Biologis
Titik ini didasarkan pada gejala-gejala perubahan fisik anak, atau didasarkan atas proses biologis tertentu. Di antaranya dikemukakan oleh :
a) Aristoteles
Ia membagi fase perkembangan manusia sejak lahir sampai usia 21 tahun dalam tiga masa, di mana setiap masa meliputi masa tujuh tahun, yaitu :
Fase kecil atau masa bermain (0-7), diakhiri dengan tanggal gigi
Fase anak sekolah atau masa belajar (7-14) tahun, yang dimulai dengan tumbuhnya gigi baru sampai timbul gejala berfungsinya kelenjar-kelenjar kelamin
Fase remaja (pubertas) atau masa peralihan dari anak menjadi dewasa (14-21) tahun, dimulai dari mulai bekerjanya kelenjar-kelenjar kelamin saampai akan memasuki masa dewasa
b) Sigmund Freud
Didasarkan pada cara reaksi-reaksi bagian-bagian tubuh tertentu, yaitu :
Fase infantile (0-5 tahun), ada tiga pembedaan, yaitu :
· Fase oral (0-1 tahun), anak mendapatkan kepuasan seksuil melaui mulutnya
· Fase anal (1-3 tahun), anak mendapatkan kepuasan seksuil melalui anusnya
· Fase phalis (3-5 tahun), anak mendapatkan kepuasan seksuil melalui kelaminnya
Fase laten (5-12 tahun)
Anak tampak tenang, setelah terjadi gelombang dan badai pada tiga fase pertama, karena desakan seksuilnya mengendur.Anak dapat mudah melupakannya dan mengalihkannya pada masalah-masalah yang berkaitan dengan sekolah dan teman sejenisnya.Meskipun tetap berjalan, tetapi pada fase ini diarahkan pada masalah social dan membangun benteng yang kokoh melawan seksualllitas.
Fase pubertas (12-18 tahun)
Dorongan seksualitas muncul kembali. Apabila dapat ditransfer dan disublimasikan dengan baik, anak akan sampai pada masa kematangan terakhir, yaitu fase genetikal.
Fase genital (18-20 tahun)
Seksualitas pada fase ini lebih terarah dan lebih ditujukan untuk tujuan reproduksi dengan disertai bumbu cinta.Konflik internal lebih stabil dan seseorang dapat mencapai struktur ego yang kuat untuk dapat berhubungan dengan dunia realita.Pencapaian ego-ideal yang didambakan akhirnya dapat dicapai, yaitu dengan keseimbangan Antara cinta dan kerja.
c) Maria Montessori
Ia mengatakan bahwa perkembangan itu adalah melaksanakan kodrat alam dengan asas pokok, yaitu asas kebutuhan vital (masa peka) dan asas kesibukan sendiri, yaitu :
Periode I, umur 0-7 tahun, yaitu penangkapan dan pengenalan dunia luar dengan pancaindra
Periode II, umur 2-12 tahun, yaitu abstrak, di mana anak-anak mulai menilai perbuatan baik buruk manusia dan timbulnya insan kamil
Periode III, umur 12-18 tahun, yaitu penentuan diri dan kepekaan social
Periode IV, umur 18 ke atas, yaitu pendidikan perguruan tinggi
d) Elizabeth B. Hurlock
Membagi atas lima fase, yaitu :
Fase prenatal (sebelum lahir), mulai masa konsepsi sampai proses kelahiran, ± 280 hari
Fase infancy (orok), mulai lahir sampai usia 14 hari
Fase babyhood (bayi), mulai 2 minggu sampai sekitar usia 2 tahun
Fase childhood (kanak-kanak), mulai 2 tahun sampai usia pubertas
Fase adolescence (remaja), mulai 11 dan 13 sampai 21 tahun, yang terbagi dalam 3 masa, yaitu :
· Fase pre adolescence, mulai 11-13 tahun bagi wanita, dan usia sekitar setahun kemudian bagi pria
· Fase early adolescence, mulai 13-14 tahun sampai 16-17 tahun
· Fase late adolescence, masa-masa akhir dari perkembangan seseorang atau hamper bersamaan dengan masa ketika seseorang tengah menempuh perguruan tinggi
2) Periodisasi Perkembangan Berdasarkan Konsep Didaktif
Fase ini didasarkan pada bagaimana cara mendidik berdasarkan masa-masa tertentu. Antara lain, dikemukakan oleh :
a) Johann Amos Comenius
Ia adalah seorang ahli didik di Moravia. Ia membagi fase perkembangan berdasarkan tingkat sekolah dan menurut Bahasa yang dipelajarinya di sekolah. Pembagian itu anatara lain :
0-6 tahun (sekolah ibu), masa mengembangkan alat indra dan memperoleh pengasuhan dasar atas asuhan ibunya
6-12 tahun (sekolah bahasa ibu), masa mengembangkan daya ingat di bawah pendidikan sekolah rendah dan mulai diajarkan bahasa ibu
12-18 tahun (sekolah bahasa latin), masa mengembangkan daya pikiran di bawah pendidikan sekolah menengah dan pembelajaran bahasa latin sebagai bahasa asing
18-24 tahun (sekolah tinggi dan pengembaraan), masa pengembangan kemauannya dan memilih suatu lapangan hidup yang berlansung di bawah perguruan tinggi
b) Elizabeth B. Hurlock
Ia mengemukakan dalam “Developmental Psicology” (1980), bahwa perkembangan manusia itu berlansung dari konsepsi hingga mati dengan pembagian periodisasinya. Berikut pembagiannya :
Masa sebelum lahir (prenatal), 9 bulan
Masa bayi baru lahir (new born), 0-2 minggu
Masa bayi (baby-hood), 2 minggu – 2 tahun
Masa kanak-kanak awal (early childhood), 2-6 tahun
Masa kanak-kanak akhir (later childhood), 6-12 tahun
Masa puber (puberty), 11/12-15/16 tahun
Masa remaja (adolescence), 15/16-21 tahun
Masa dewasa awal (early adulthood), 21-40 tahun
Masa dewasa madya (middle adulthood), 40-60 tahun
Masa usia lanjut (later adulthood), 60 tahun ke atas
3) Periodisasi Perkembangan Berdasarkan Ciri-ciri Psikologis
Didasarkan atas ciri-ciri kejiwaan yang menonjol, yang menandai masa dalam periode tersebut. Seperti dikemukakan oleh, anatara lain :
a) Oswald Kroch
Didasarkan pada pengalaman keguncangan jiwa yang dimanifestasikan dalam bentuk sifat trotz atau keras kepala, yang terbagi menjadi tiga bagian, yaitu :
Fase anak awal (0-3 tahun), ditandai dengan anak serba membantah atau menentang orang lain, disebabkan mulai timbulnya kesadaran akan kemampuannya untuk berkemauan, sehingga ia ingin menguji kemauannya itu.
Fase keserasian sekolah (3-13 tahun), anak akan mulai membantah lagi, suka menentang kepada orang lain, terutama terhadap orang tuanya. Ini adalah gejala biasa, sebagai akibat kesadaran fisiknya, sifat berfikir lebih maju, keyakinan lebih benar, tetapi yang dirasakan sebagai keguncangan.
Fase kematangan (13-21 tahun), anak mulai menyadari dan menyikapi secara wajar kekurangan dan kelebihannya, mulai menghargai orang lain karena sadar akan persamaan hak. Masa ini menunjukkan terbentuknya kepribadian menuju kemantapan (kedewasaan).
b) Kohnstamm
Ia melihat dari sisi pendidikan dan tujuan luhur umat manusia, Antara lain :
Periode vital (0-1,5 tahun), disebut juga fase menyusu
Periode estetis (1,5-7 tahun), disebut juga fase pencoba atau bermain
Periode intelektuil (7-14 tahun), disebut juga masa sekolah
Periode social (14-21 tahun), disebut juga masa remaja
Periode matang (21 tahun ke atas), disebut juga masa dewasa
4) Periodisasi Perkembangan Berdasarkan Konsep Tugas Perkembangan
Tugas perkembangan adalah berbagai ciri perkembangan yang diharapkan timbul dan dimiliki setiap anak pada setiap masa dalam masa perkembangannya. Seperti dikemukakan oleh oleh Robert J. Havighurst,yaitu :
Masa bayi dan kanak-kanak (infancy and early childhood), umur 0-6 tahun
Masa sekolah atau pertengahan kanak-kanak (middle childhood), umur 6-12 tahun
Masa remaja (adolescence), umur 12-18 tahun
Masa awal dewasa (early adulthood), umur 18-30 tahun
Masa dewasa pertengahan (middle age), umur 30-50 tahun
Masa tua (latter maturity), 50 tahhun ke atas
5) Periodisasi Perkembangan Menurut Konsep Islam
Berdasarkan ayat-ayat Al-Qur’an dan hadirs-hadits Rasululloh SAW, sebagai pedoman agama Islam, periodisasi perkembangan ini dibedakan atas tiga fase, yaitu :
a) Periode pra-konsepsi, yaitu perkembangan manusia sebelum masa pembuahan sperma dan ovum. Meskipun wujud manusia belum berbentuk, tetapi ini juga mempengaruhikualitas generasi yang akan lahir kelak
b) Periode pra-natal, yaitu peride perkembangan mulai dari pembuahan sperma dan ovum sampai masa kelahiran, terbagi atas empat fase yaitu :
Fase nuthfah (zigot), dimulai dari pembuahan sampai 40 hari masa dalam kandungan
Fase ‘alaqah (embrio), selama 40 hari
Fase mudhghah (janin), selama 4 hari
Fase peniupan ruh ke dalam jasad janin dalam kandungan setelah genap berusia 4 bulan
c) Periode kelahiran sampai meninggal, terdiri dari beberapa fase, yaitu :
Fase neo-natus, mulai kelahiran sampai kira-kira minggu keempat.
Fase al-thifl kanak-kanak), mulai dari usia 1 bulan sampai 7 tahun.
Fase tamyiz, anak mulai mampu membedakan mana baik dan buruk, benar dan salah. Dimulai usia 7 tahun sampai 12 atau 13 tahun.
Fase baligh atau ‘aqil, ditandai dengan mimpi bagi laki-laki dan haid bagi perempuan, anak mulai mengerti tentang tanggung jawab, tingkah laku intelektual mencapai puncak sehingga mampu membedakan benar dan salah, baik dan buruk. Dimulai usia 15 sampai 40 tahun.
Fase kearifandan kebijakan, seseorang telah memiliki tingkat kesadaran dan kecerdasan emosional, moral spiritual dan agama yang mendalam. Dimulai usia 40 tahun sampai meninggal dunia.
Fase kematian, yaitu fase di mana nyawa telah hilang dari jasadnya. Fase ini di awali dengan adanya naza’ yaitu awal pencabutan nyawa oleh malaikat Izrail.
D. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan
Perkembangan setiap individu itu tidak sama. Hal ini sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor. Secara garis besar, dibedakan menjadi tiga faktor, yaitu : 1) faktor yang berasal dari diri individu; 2) faktor yang berasal dari luar individu; dan 3) faktor-faktor umum. Untuk lebih jelasnya dapat kita ketahui melaui uraian di bawah ini.
1. Faktor-faktor yang Berasal dari Dalam Diri Individu
Sejak dalam kandungan, janin tumbuh besar dengan kodrat masing-masing. Dalam masa perkembangan diri itu, ada beberapa faktor yang mempengaruhinya, antara lain :
a. Bakat atau pembawaan
Setiap anak yang terlahir itu memiliki bermacam-macam bakat sebagai pembawaannya. Denagn bakat yang dimiliki, seseorang akan lebih mencapai kemajuan dan kesuksesan jika sesuai dengan bakat yang dimiliki. Tetapi bakat itu hanya berarti kemungkinan, bukan berarti keharusan.Dengan demikian menandakan bahwa bakat atau pembawaan mempunyai pengaruh terhadap perkembangan individu.
b. Sifat-sifat keturunan
Sifat-sifat keturunan itu bisa berupa fisik atau mental, yang diturunkan oleh orang tua atau nenek moyangnya.Tetapi sifat-sifat keturunan itu dapat dirubah dengan lingkungan dan pendidikan, terutama yang bersifat buruk.Jadi, jelas bahwa sifat keturunan juga mempengaruhi perkembangan individu.
c. Dorongan dan instink
Dorongan adalah kodrat hidup yang mendorong manusia melaksanakan sesuatu atau bertindak pada saatnya.Sedangkan instink adalah suatu sifat yang dapat menimbulkan perbuatan yang menyampaikan pada tujuan tanpa didahului dengan latihan. Kemampuan instink ini merupakan pembawaan sejak lahir yang terjadi tanpa proses belajar. Jenis-jenis tingkah laku manusia yang digolongkan instink, ialah :
v Melarikan diri (flight), karena perasaan takut (fear)
v Menolak (repulsion), karena jijik (disgis)
v Ingin tahu (curiosity), karena menakjubkan sesuatu (wonder)
v Malawan (pugnacity), karena kemarahan (anger)
v Merendahkan diri (self abasement), karena perasaan mengabdi (subjection)
v Menonjolkan diri (self assertion), karena adanya harga diri atau manja (elation)
v Orangrua (parental), karena perasaan halus budi (tender)
v Berkelaminan (sexual), karena keinginan mengadakan reproduksi
v Berkumpul (acquisition), karena keinginan untuk mendapatkan sesuatu yang baru
v Mencapai sesuatu (question), karena ingin bergaul/bermasyarakat
v Membangun sesuatu (contruction), karena mendapatkan kemajuan
v Menarik perhatian orang lain (appeal), karena ingin diperhatikan oleh orang lain
2. Faktor-faktor yang Berasal dari Luar Diri Individu
Perkembangan itu selain dipengaruhi oleh faktor dari dalam, juga terpengaruh faktor-faktor dari luar. Di Antara beberapa faktor luar yang mempengaruhi perkembangan individu adalah :
a. Makanan
Makanan merupakan faktor yang penting untuk pertumbuhan dan perkembangan setiap individu agar menjadi sehat dan kuat.Maka perlu diperhatikan dari segi kuantitas (jumlah), dan juga kualitas (mutu).Tetapi jika ditinjau dari prespektif agama (Islam), makanan juga harus disempurnakan dengan tingkat kehalalan dan kebersihannya. Sebagaimana firman Alloh SWT, di bawah ini :
“Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang telah dirizkikan kepadamu … ” (QS. Al-Maidah : 88)
Memperhatikan makanan dari segi kehalalan itu perlu karena mekanan memiliki pengaruh yang besar selain terhadap pertumbuhan dan kesehatan jasmani, juga untuk perkembangan jiwa, pikiran dan tingkah laku seseorang. Sebagaimana ditegaskan oleh seorang ulama kpntemporer, Syaikh Taqi Falsafi, dalam bukunya Child Between Heredity and Education, yaitu :
“Pengaruh dari campuran (senyawa) kimiawi yang dikandung oleh makanan terhadap aktifitas jiwa dan pikiran manusia belum diketahui secara sempurna, karena belum diadakan eksperimen secara memadai.Namun, tidak dapat diragukan bahwa perasaan manusia dipengaruhi oleh kualitas dan kuantitas makanan”.
Dengan demikian jelas bahwa makanan memiliki peranan penting dalam perkembangan jasmani dan jiwa manusia. Terlihat dari jika kita memakan dari hasil curian atau tidak halal, maka akan membuat kita berperilaku buruk. Seperti jika orang yang suka minum minuman keras, yang akibatnya dapat kita lihat dan dengar setiap saat.
b. Iklim
Sifat-sifat iklim, alam dan udara mempengaruhi pula sifat-sifat individu dan jiwa bangsa yang dalam iklim yang bersangkutan.Seperti orang yang hidup di iklim tropis akan terlihat jiwanya lebih tenang, daripada orang iklim dingin, karena keadaan alam iklim tropis alamnya tidak sekeras di iklim dingin, sehingga hidupnya pun cenderung lebih santai. Juga pengaruh dari banyaknya udara yang segar dan bersih serta sinar matahari terhadap perkembangan individu dibandingkan dengan hidup di lingkungan yang buruk. Meskipun masih banyak perdebatan tentang sejauh mana pengaruh-pengaruh tersebut terhadap perkembangan individu.
c. Kebudayaan
Latar belakang budaya juga sedikit banyak mempengaruhi perkembangan individu. Misalnya, perbedaan perkembangan individu yang hidup dalam budaya desa yang masih murni, lebih agamis dengan budaya kota yang telah terpengaruh budaya asing.
d. Ekonomi
Latar belakang ekonomi juga berpengaruh pada perkembangan anak.Orang tuanya yang memiliki ekonomi lemah, selain tidak dapat memberikan kebutuhan gizi yang memadai, kebutuhan ekonomis anaknya sehingga tidak jarang memberikan tekanan jiwa pada anaknya.Hal ini menjadikan anak tubuh menjadi orang pendiam, tertutup bahkan perasaan rendah diri.
e. Kadudukan anak dalam lingkungan keluarga
Kedudukan anak dalam lingkungan keluarga juga mempengaruhi dalam tumbuh kembang anak.Bisa kita lihat perbedaan anak yang tumbuh menjadi anak tunggal dengan anak yang memiliki saudara banyak.Anak tunggal terkeadang memiliki sifat manja, kekanak-kanakan, kurang bisa bergaul, dan lain-lain. Sedangkan anak yang memiliki saudara banyak, anak selanjutnya ataupun si bungsu dapat berkembang dengn meniru tingkah sang kakak dan manja, tapi tidak jarang juga karena sifat manja menjadi anak bungsu menghambat perkembangannya.
3. Faktor-faktor Umum
Faktor-faktor umum adalah beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangan yang berasal dari campuran baik faktor dalam dan luar. Beberapa faktor umum yang mempengaruhi perkembangan adalah :
a. Intelegensi
Intelegensi juga menjadi faktor umum yang mempengaruhi perkembangan anak.Kita lihat perkembangan anak yang memiliki intelegensi tinggi (cerdas) yang lebih cepat perkembangannya daripada yang berintelegensi rendah yang agak lamban perkembangannya.
b. Jenis kelamin
Jenis kelamin juga memegang peranan penting dalam perkembangan fisik dan mental anak.Ketika baru lahir, anak laki-laki lebih besar tetapi lebih cepat pertumbuhan anak perempuan.Dalam kematangannya, anak perempuan lebih dulu daripada anak laki-laki.
c. Kelenjar gondok
Penelitian dalam bidang endocrinologi menunjukkan pentingnya peranan kelenjar gondok dalam perkembangan anak.Hal ini dapat mempengaruhi perkembangan sebelum lahir maupun pertumbuhan dan perkembangannya.
d. Kesehatan
Orang yang memiliki kesehatan fisik dan mental yang baik dan sempurna akan mengalami perkembangan yang baik. Sebaliknya orang yang mengalami gangguan kesehatan, baik secara fisik dan mental.Perkembangan dan pertumbuhannya juga mengalami hambatan.
e. Ras
Ras juga mempengaruhi perkembangan seseorang.Misalnya, anak-anak dari rasmediteranian (sekitar laut tengah) mengalami perkembangan fisik lebih cepat dibandingkan dengan anak dari bangsa Eropa Utara.Demikian pula anak Negro dan ras Indian, ternyata perkembangannya lebih cepat dibanding dengan anak-anak dari ras bangsa yang berkulit putih dan kuning.